Amy Mistika dan hasil pekerjaan rumah Kah Shzen

MANAberita.com – SEBUAH kisah inspiratif dan mengharukan dari sosok guru cantik di Malaysia yang berjuang untuk dapat membuat siswa yang sangat pendiam dan pemalu akhirnya bisa tersenyum di pesta perpisahan.

Dibutuhkan kesabaran serta dedikasi tinggi untuk menekuni profesi sebagai guru, terlebih harus menghadapi siswa dengan beragam karakter di kelas. Pastilah bukan pekerjaan yang mudah.

Tak hanya mendidik serta mencerdaskan generasi bangsa, kehadiran seorang guru diharapkan bisa jadi orangtua dan sahabat di lingkungan sekolah.

Hal inilah yang tengah diperjuangkan oleh Amy Mistika, guru di SMK Puchong Utama, Malaysia. Amy berkisah soal usahanya untuk berkomunikasi dengan seorang siswa yang memiliki sifat pendiam juga pemalu dikelasnya.

“Aku memiliki seorang murid yang sangat pendiam dan pemalu, sangat sulit mengajaknya berbicara. Namanya Yip Kah Shzen,” tuturnya.

Saking pendiam dan pemalunya, Amy bahkan tak menyadari kehadiran siswa tersebut di dalam kelas. Tertutup oleh siswa lain yang lebih aktif dan situasi kelas yang bising.

Hingga tiba saatnya perkenalan, Amy menanyakan nama siswa itu, namun ia hanya diam dan menunduk melihat ke meja.

“Aku bertanya beberapa kali siapa namanya, namun ia lagi-lagi hanya diam,” ujarnya.

Belakangan Amy mengetahui siswa tersebut bernama Kah Shzen dari siswa lain.

“Bu guru, dia (Kah Shzen) anaknya pemalu,” ujar siswa lain.

Sejak saat itu Amy berinisiatif untuk mengubah posisi tempat duduk di kelasnya dan menempatkan Kah Shzen ke bangku depan sehingga Amy bisa mengawasinya

Amy memiliki cara sendiri dalam mendidik, ia memberikan hukuman kepada siswa yang tak membawa buku atau kalkulator ketika pelajaran berlangsung.

Ia juga rutin mengecek kelengkapan barang bawaan siswa satu persatu, ketika tiba giliran Kah Shzen, siswa tersebut tetap diam dan menatap ke meja.

Siswa lain berujar kepada Amy, selama ini guru lain hanya membiarkannya. Karena menurut mereka, apapun yang terjadi, Kah Shzen akan tetap diam dan tak berbicara sepatah kata apapun.

Penasaran dengan sosoknya, Amy bebincang dengan guru Matematika yang juga mengajar di kelas itu.

“Tak ada yang bisa kita lakukan, biarkan saja,” kata guru tersebut.

Mendapati jawaban itu, Amy merasa hal tersebut tidak adil. Ia lantas mencoba beragam cara agar bisa berkomunikasi dengan Kah Shzen. Amy bahkan mencoba untuk berbincang dengannya menggunakan bahasa Mandarin, karena mengira ia tak paham bahasa melayu.

Kemudian Amy menemukan hal yang membuatnya sedih. Selama ini Kah Shzen tak memiliki buku atau kalkulator untuk dibawa ke kelas.

Amy merasa bersalah karena telah memberlakukan peraturan yang seharusnya tak ia terapkan kepada siswa yang kurang mampu. Namun, disaat yang bersamaan Amy merasa hal ini tidak adil bagi siswa lain karena Kah Shzen menerima perlakuan spesial.

Lalu, Amy meminjamkan beberapa buku dan kalkulator kepada Kah Shzen untuk ia gunakan selama pelajaran berlangsung. Suatu hari Amy mengecek buku catatan milik Kah Shzen dan hasilnya di luar dugaan.

Pekerjaan rumah milik Kah Shzen (Foto: Twitter/@amymistika)

“Ketika aku mencek buku catatannya, ternyata ia mencatat semua yang aku tulis di papan tulis,” ujarnya.

Berkat buku yang dipinjamkan oleh Amy, kini Kah Shzen selalu mengumpulkan pekerjaan rumahnya. Kemudian, Amy sampai pada sebuah kesimpulan.

“Ini berarti dia (Kah Shzen) tidak malas, hanya saya ia tak memiliki peralatan (untuk menunjang proses belajarnya),” kata Amy.

Usaha Amy untuk berkomunikasi dengan Kah Szhen akhirnya berbuah manis. Kah Shzen mengirimi Amy pesan singkat melalui whatsapp untuk menanyakan penggarisnya yang hilang.

“Kah Shzen mulanya tak berani berkomunikasi denganku. Tiba-tiba dia me-whatsapp aku menanyakan penggarisnya yang hilang. Aku terkejut, sekaligus bahagia,” tuturnya.


Chat Whatsapp Amy dan muridnya (Foto: Twitter/@amymistika)

Sejak saat itu, Kah Shzen mulai terbuka kepada Amy. Setiap kali Amy memeriksa pekerjaan rumah milik Kah Shzen, ia selalu memberikan catatan kecil dibawah bukunya.

“Maukah kamu tersenyum untukku,” tulisnya.

Hal ini dilakukan karena selama Amy mengajar, ia tak pernah melihat Kah Shzen tersenyum atau berbicara. Belum usai usahanya menjadikan Kah Shzen siswa yang murah senyum juga lebih terbuka, Amy harus meninggalkan sekolah tersebut.

Namun, sebelum Amy benar-benar meninggalkan sekolah itu, melalui temannya, Kah Shzen memberikan sebuah pesan kepada Amy.

“Aku membuka pesan tersebut, dia (Kah Shzen) hanya menuliskan satu kalimat- ‘Terima kasih bu guru’. Kalimat itu sederhana, namun sangat berarti untukku,” ungkapnya.

Saat hari terakhir Amy mengajar, ia berfoto dengan murid-murid di kelas tersebut dan meminta satu permintaan kepada Kah Shzen.

Amy Mistika dengan siswanya, Kah Shzen

“Ketika berfoto bersama di hari perpisahaan, aku meminta Kah Shzen untuk tersenyum kepadaku karena hari itu adalah hari terakhirku (mengajar). Ia kemudiaan mencobanya,” tutur Amy.

Semangat Amy untuk membantu Kah Shzen di kelasnya, membuat banyak orang terharu dan beramai-ramai mengirimkan doa untuk Amy melalui akun Twitternya.

Baca Juga
Beredar Video Sejumlah Guru Lakukan ‘Turun Naik’ Challenge, Netizen Justru Mengamuk Karena Hal ini
Aksi Heroik Serka Ismail Anggota Kopaska Usir 2 Kapal Malaysia Tanpa Menggunakan Senjata
Netizen Gempar, Deadpool dan Spiderman Kepergok Bayar Zakat

Pengalaman itu Amy bagikan melalui akun Twitter pribadinya. Hingga kini ceritanya itu telah diretweet lebih dari 38 ribu kali dalam waktu dua hari.

Karakter siswa seperti Kah Shzen bukanlah sebuah hal yang perlu dihindari atau malah tak dihiraukan sama sekali. Ia hanya perlu seseorang untuk menuntun dan memberinya petunjuk, seperti apa yang dilakukan Amy.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda dalam menghadapi anak yang pendiam dan pemalu agar ia mempunyai keberanian untuk mengekspresikan diri dan untuk menggali kemampuan yang dimiliki. (Int)