Ilustrasi

MANAberita.com – SUNGGUH biadab ulah seorang Tante muda ini terhadap keponakannya sendiri. SS seorang perempuan muda berusia 28 tahun asal Banda Aceh, tega dengan berulang kali mencabuli keponakannya.

Saat konferensi di Mapolresta Banda Aceh, tersangka SS dihadirkan. Tersangka mengenakan baju tahanan dan menutup mukanya dengan jilbab. Saat Polisi menguraikan kronologi peristiwa yang dilakukannya, terlihat SS tertunduk menyesal dan sesekali terdengar isak tangis.

Ipda Septia Intan Putri selaku Kanit PPA Satreskrim Polresta Banda Aceh mengatakan, menurut pengakuan tersangka, SS melakukan pencabulan dengan cara memasukkan pensil dan lidi kedalam kemaluan korban. Tersangka juga mengakui bahwa kejadian itu dilakukan pertama kali pada tahun 2016, disaat korban sedang tidur dikamarnya.

“Kejadian berawal dari tahun 2016 dan tersangka sudah beberapa kali melakukan pencabulan terhadap korban. Tersangka dan korban tinggal satu rumah di Banda Aceh,” kata Septia, dilansir dari Detik.com. (08/03)

Melihat ada perubahan perilaku terhadap anaknya, orang tua korban pun menjadi curiga. Akhirnya kecurigaan orang tua korban terjawab setelah mereka melihat sendiri aksi cabul SS memasukkan sesuatu kedalam kemaluan anaknya.

Baca Juga
Gila! Hanya Karena Uang THR Dibelikan Layangan, Ibu ini Aniaya Putranya Hingga Tewas
Keterlaluan! Pelaku Penganiaya Guru Hingga Tewas Masih Dapat Tersenyum Saat Diamankan Polisi
Astaga! Inilah Video Oknum Polisi Tampar Wanita Di Depan Balita

“Ibu korban merasa curiga melihat perilaku anaknya. Setelah didesak, akhirnya korban bercerita. Apalagi ibu korban sempat mengintip aksi tantenya tersebut. Selanjutnya, ibu korban melaporkan tersangka ke Polisi,” jelas Septia.

Setelah mendapat laporan, Polisi langsung bergerak cepat. Pelaku yang saat itu berada dirumah diciduk tanpa perlawanan sekitar dua minggu yang lalu. Ketika diinterogasi, tersangka mengaku mencabuli keponakannya lantaran ingin melampiaskan hasrat seksualnya.

“Korban sekarang dalam kondisi trauma. Kami juga sudah membawa korban ke psikolog, agar korban bisa kembali ke kondisinya semula,” pungkas Septia. (dna)