Kimberley Miners

MANAberita.com — KIMBERLEY Miners adalah seorang mantan model Glamour yang tinggal di InggrisDan perempuan berusia 29 tahun ini ditargetkan oleh ISIS.

Apa yang persisnya dilakukan oleh Kimberley, sehingga dirinya menjadi target indoktrinasi Naweed Hussain, salah satu perekrut dari ISIS?

Dilansir dari Sumber melalui The Sun, semua ini bermula karena Kimberley merasa kesepian – Kimberley pernah bertunangan di tahun 2015 dan hamil, namun Kimberley mengalami keguguran karena komplikasi, sehingga tunangan Kimberley memutuskan untuk meninggalkan si mantan model ini.

Kimberley lantas mulai rajin menggunakan sosial media untuk menghilangkan rasa kesepiannya.

“Harapan dan mimpiku telah dihancurkan. Aku sendirian karena aku baru saja kehilangan bayi dan tunanganku. Aku sudah lama tidak menggunakan sosial media karena tunanganku tidak menyukainya. Tapi aku kembali menggunakannya dan disitulah semuanya berawal.” Aku Kimberley.

Kimberley saat itu merasa marah dengan semua hal yang menimpa anak-anak di Suriah.

“Aku ingin melakukan sesuatu untuk membantu. Aku mulai membagikan video serangan bom dengan harapan aku dapat memperlihatkan orang-orang tentang apa yang terjadi [di Suriah]. Kemudian aku mulai menerima banyak permintaan pertemanan dari orang-orang Suriah. Mereka mengirimkanku pesan di Facebook.”

Salah satu teman baru Kimberley di Facebook adalah Amira Abase, wanita berusia 15 tahun asal London yang hijrah ke Suriah dengan kedua teman SMA-nya untuk bergabung dengan ISIS. Ada juga Sally Jones, wanita asal Kent, Inggris, yang awalnya juga berkomunikasi dengan salah satu anggota ISIS sebelum akhirnya pindah ke Suriah dengan putranya yang masih berusia 9 tahun.

Sally Jones kini telah terbunuh dalam serangan udara.

Kimberley mengaku bahwa dirinya suka dengan perhatian yang dia dapatkan. Kimberley yang merasa kesepian merasa dirinya mulai menjadi bagian dari sesuatu.

Dari sinilah Hussain mulai menjain komunikasi dengan Kimberley.

Kimberley dibesarkan di Bradford, dan pernah bekerja di instansi pemerintahan setempat. Melihat latar belakangnya, Kimberley nampaknya bukanlah sosok yang tepat untuk direkrut dan dijadikan anggota ISIS.

Namun karena Kimberley tidak memiliki teman, dengan emosi saat itu juga masih belum stabil, Kimberley dengan mudahnya menjadi rentan terhadapa doktrin, manipulasi serta propaganda-propaganda ISIS yang diberikan oleh Hussain via Facebook.

Setiap harinya, Kimberley mengaku sering berkirim pesan online kepada teman-teman barunya, yang meliputi perempuan-perempuan di Suriah, istri para jihad, dan prajurit ISIS sendiri.

Di akhir tahun 2015, pihak berwenang Inggris mulai mendeteksi dan mencurigai aktivitas Kimberley di ranah online, dan mendatangi rumahnya. Kimberley diminta untuk mengikuti kelas pencegahan terorisme dan sesi terapi untuk mengidentifikasi hal-hal yang memicu perilakunya tersebut. Kimberley bahkan dipantau setiap minggu. Namun Kimberley berhenti mengikuti kelas, dan kembali menjalin kontak dengan Hussain.

Hussain menyuruhnya untuk membuka akun Telegram, layanan berkirim pesan yang terenkripsi.

“Di salah satu pesan aku memberi tahu Hussain kalau setiap tahunnya aku berlibur di Turki. Dia berkata, ‘Saat kamu berada di Turki, beri tahu aku’. Dia bilang dia akan mengatur supaya aku dijemput dan dibawa ke Suriah.”

Tadinya, Kimberley hendak dijadikan sebagai Sally Jones berikutnya.

“Hussain memberikanku perhatian dan pujian dan bahkan dia meyakinkan aku untuk mengubah nama menjadi Aisha Lauren al-Britaniya, karena lebih otentik. Dia pernah berkata, ‘jika kamu datang ke sini [ke Suriah] aku akan menjadikan kamu istriku.”

Dua hari setelahnya (saat itu bulan Oktober 2016), Kimberley kembali didatangi oleh kepolisian antiterorisme dan MI5, badan intelijen Inggris. Ternyata, mereka memiliki semua salinan pesan percakapan Kimberley dan Hussein, serta material-material yang dikirimkan Hussain, termasuk manual perakitan bom.

Aparat juga menemukan ratusan foto prajurit ISIS, video-video serangan bom, dan foto Kimberley yang mengenakan jilbab hitam. Kimberley diperingatkan, bahwa dirinya terancam dihukum penjara selama 10 tahun.

“Rasanya seperti sesuatu telah menampar wajahku. Aku berpikir, ‘Apa yang telah aku lakukan?’ Orang-orang yang berkomunikasi denganku adalah teroris yang berbahaya. Aku mulai merasa malu dengan diriku sendiri.” Kata Kimberley, yang akhirnya menjalani 15 bulan sebagai tahanan rumah.

Baca Juga
Bertengkar Dengan Mantan Suami, Wanita ini Lemparkan Anaknya dari Lantai 4
Buset! Bawa Parang, Wanita ini Ajak Paksa Mantan Kekasihnya Berhubungan Intim
Astaga! Kerap Cabuti Rambutnya Sendiri Hingga Botak, Alasannya Sungguh Tak Terduga

Di awal tahun 2017, Hussain terbunuh dalam serangan drone.

Ternyata, Hussain yang berusia 32 tahun juga tengah mempersiapkan hampir 10 wanita Inggris lainnya selain Kimberley, untuk dijadikan sebagai anggota ISIS.

Kimberley merasa beruntung dirinya telah ditangkap sebelum pergi ke Suriah. (Dil)