Tim Doping Control Asian Games 2018

MANAberita.com – SORE itu (25/08) suasana di Venue Tennis Jakabaring Sport City Palembang menjadi riuh rendah, luapan perasaan gembira dan bangga menjadi satu. Betapa tidak, medali emas tenis berhasil diraih pasangan ganda campuran Christoper Rungkat bersama Aldila Sutjiadi. Emas ini sekaligus mengakhiri puasa medali emas Tenis selama 16 tahun. Euforia yang begitu membuncah dari semua pihak menyeruak. Christo dan Aldila menjadi “buruan” semua pihak laksana pahlawan yang menang perang.


Namun, disaat pesta baru akan dimulai, insan pers dan penggemar mendadak kebingungan saat Christo tiba-tiba raib bak ditelan bumi usai konferensi pers kemenangannya. Kemana Christo?

Pertanyaan “hilangnya” Christo dan beberapa atlet lain usai konferensi pers menjadi menarik dibahas tatkala diketahui bahwa mereka “diculik” oleh beberapa petugas yang mengenakan baju hijau. Siapa mereka?

Apa pentingnya mereka? Apa yang lebih penting dari euforia kemenangan sehingga mereka berani melakukan “penculikan” itu?

Christoper Rungkat dan Aldilla Sutjiadi

Dari penelusuran @MANAberita diketahui bahwa atlet-atlet tersebut ternyata mengikuti salah satu bagian penting dalam proses pertandingan itu sendiri. Bila rangkaian ini tidak diikuti, maka kemenangan mereka tidak komplit bahkan akan dianulir. Wowowow…

Yap… Pemeriksaan Doping Control, sebuah bagian tidak terpisahkan dari suatu pertandingan di level nasional maupun internasional.

Lalu siapa orang-orang berbaju hijau tersebut? @MANAberita berhasil menemui M. Ihsan Tarmizi, Person in Charge (PIC) Doping Control Asian Games 2018 untuk Palembang. Berikut petikan wawancara dengan Ihsan yang didampingi oleh 2 chaperone Nur Chafizoh dan Wulan Imaniah di Doping Control Commmand Centre  (30/08).

M. Ihsan Tarmizi

“Pemeriksaan Doping jelas untuk mengesahkan dan mengabsahkan  pemenang, seorang pemenang bila diketahui menggunakan doping secara otomatis akan digugurkan medali yang diterimanya,” papar Ihsan.

Ihsan telah menjadi Doping Control Officer (DCO) di beberapa event seperti Pekan Olahraga Nasional 2004, Sea Games 2011, Islamic Solidarity Games, Asean University Games dan berbagai event olahraga internasional lain.

Saat ditanya apa yang terjadi bila atlet menolak melakukan test Doping, Ihsan secara lugas menjawab boleh-boleh saja atlet menolak, namun sesuai aturan dari WADA (World Anti Doping Agency) atlet tersebut diwajibkan mengisi formulir penolakan dan dia dinyatakan menggunakan doping. Dan artinya medali yang didapat otomatis gugur.

“Untuk pemeriksaan Doping di Asian Games kali  ini selain In Competition (IC) kita juga melakukan Out of Competition (OOC) yang dilakukan sebelum ada pertandingan. Atlet dipilih secara random (acak) untuk mengikuti tes ini. Bila dari hasil lab atlet memakai doping,   maka dia akan dipulangkan ke negaranya dan tidak diperkenankan mengikuti rangkaian pertandingan,” jelas Ihsan.

Menteri Kesehatan RI saat meninjau ke lokasi pertandingan

Ihsan juga menjelaskan bahwa untuk pemeriksaan Doping Asian Games 2018, WADA bekerjasama dengan pihak ketiga untuk Sample Collection yaitu Professional Worldwide Control (PWC). PWC pun menurunkan DCO berstandar Internasional dari berbagai penjuru dunia.

“Untuk di Palembang sendiri, sample collectionnya lebih dari 300 buah, kita menurunkan tim yang telah mengikuti pelatihan dan bersertifikat internasional sebanyak 72 orang, terdiri dari 16 DCO dan 56 chaperone,” urai pria yang sehari-hari bekerja sebagai Dosen di Poltekkes jurusan Analis Kesehatan ini.

Tim Doping Control Asian Games 2018

Sampel yang diambil  berupa urine atlet dan ada juga sebagian kecil berupa darah (blood).

“Sampel yang sudah diambil akan diperiksa di Laboratorium Doha Qatar, hasilnya akan diketahui dalam 1 hari. Dan resultnya akan diumumkan oleh Olympic Council of Asia (OCA),” jelas Ihsan.

Sementara itu 2 orang Chaperone Nur Chafizoh dan Wulan Imaniah yang mendampingi Ihsan nampak antusias menceritakan pengalaman mereka selama bertugas di Asian Games 2018.

Nur dan Wulan Tim Doping Control Asian Games 2018

“Ini adalah pengalaman pertama kami menjadi bagian dari Doping Control, saat mendengar ada tes untuk menjadi bagian ini saya langsung mendaftar,” kata Nur yang tercatat sebagai mahasiswi Poltekkes.

Menjadi bagian tim bukan perkara mudah karena mereka diwajibkan bisa berbahasa Inggris.

“Kesulitan kita ada beberapa atlet yang tidak bisa bahasa Inggris, kemarin atlet Sepak Takraw dari Korea. Terpaksa menggunakan bahasa isyarat. Ini  merupakan pengalaman berharga dan luar biasa bagi saya,” papar Nur.

Baca Juga
Seru! Games Sederhana ini Diklaim Lebih Mendebarkan dari Mobile Legends, Begini Cara Membuatnya
26 Negara Lolos, Tiket Peserta Piala Dunia 2018 Tinggal 6 Lagi
Miris! Sebulan Lebih Closing Asian Games, Honor Tim Medical dan Doping Control Belum Juga Dibayarkan

Tim Doping Control Asian Games 2018

Wulan pun merasakan hal yang sama, pengalaman bertemu orang-orang dari seluruh penjuru Asia merupakan hal yang istimewa.

“Sebagai petugas Doping, kami terkadang menunggu sampai larut malam. Contoh seperti teman yang bertugas di Football, pertandingan selesai pukul 21.30 WIB. Atlet hadir di Doping Control Station (DCS) pukul 22.00 WIB, belum lagi menunggu mereka buang air kecil yang diwajibkan minimal 90 ml. Bila kurang dari 90 ml, berarti partial dan kita akan menunggu lebih lama lagi,” urai Wulan.

Tim Doping Control Asian Games 2018

Over all, baik Nur maupun Wulan sepakat menjawab akan bersedia kembali menjadi tim doping control bila ada even olahraga di lain waktu. (a2n)