Korban R (3)

MANAberita.com — DEDI Sadiran (37) tak percaya ajal begitu cepat menjemput anak laki-laki keempatnya, MI alias R (3), yang menghembuskan napas terakhirnya kemarin.

Ajal itu datang menjemput R pada Sabtu (20/10) lalu, saat bocah kelahiran 8 April 2015 itu terkunci di dalam mobil milik Afandi (26) yang terparkir di lahan kosong dekat Apartemen Pluit Sea View, Penjaringan, Jakarta Utara.

Melansir Tribun Jakarta, Dedi menceritakan sedikit banyak tentang momen terakhir yang ia lalui bersama putranya itu.

Sebelum kehilangan R, Dedi sama sekali tak memiliki firasat apapun. Pria yang bekerja sebagai pedagang di kawasan Mangga Dua itu malah menceritakan mimpi yang dialami istrinya, Leha, semalam sebelum kematian R.

Kendati demikian, mimpi tentang dua gagang pisau terbelah dua yang dialami Leha sama sekali tak dianggap Dedi sebagai sebuah pertanda.

“Cuman memang ibunya mimpi gagang pisau kebelah dua. Kalo saya sih nggak nanggepin. Soalnya ibu saya habis meninggal juga, belum ada 40 hari,” ujar Dedi sambil menghisap rokoknya.

Terlepas dari firasat maupun pertanda apapun, yang masih terekam jelas di benak Dedi adalah momen terakhir yang ia habiskan bersama R.

Dedi masih ingat, beberapa hari lalu dirinya sempat mandi bersama R sebelum berangkat bekerja. Ia tak menyangka cipratan air serta canda tawa R saat mandi bersama itu merupakan momen kebahagiaan terakhir yang Dedi rasakan bersama putranya.

“Saya terakhir sih mandiin dia. Itu hari Rabu atau Kamis gitu. Biasanya kan saya mau berangkat kerja mandi sendiri, ini saya mandi bertiga, mandi bareng. Saya mandiin satu-satu, pada bercanda,” beber Dedi diiringi hembusan asap rokok kesekian kalinya dari mulut bapak lima anak itu saat berbincang sore tadi.

Meski hanya tiga tahun lebih menghabiskan waktu bersama R sebelum ajal menjemputnya, Dedi sudah sangat mengenal kepribadian anaknya itu.

R adalah balita yang berbeda dari empat anaknya yang lain. Perbedaan sangat signifikan yang Dedi lihat terutama dari semangat yang terus terpancar dari keseharian R.

“Dia ceria. Emang beda itu anak, badung, gesit, aktif anaknya. Cerewet, bawel. Ngomongnya udah lancar,” ungkap warga Tembok Bolong, Kampung Kembangan Lestari, Penjaringan, Jakarta Utara itu.

Tak hanya sifat R, Dedi juga masih sangat hafal kebiasaan putranya sebelum meninggal. R selalu terlihat diam dan anteng saat meminjam telepon genggamnya untuk dimainkan.

Dedi menganggapnya sebagai sebuah hal wajar, meski R tak jarang memainkan telepon genggamnya saat Dedi sedang tertidur. Yang penting, menurut Dedi, anaknya itu bisa terhibur dengan segala yang ia miliki.

“Dia paling suka paling minjem handphone bapaknya. Misalnya saya masih tidur udah dicabut handphone saya tuh, suka rebutan sama kakaknya. Tapi nggak apa-apa, yang penting dia anteng,” kata Dedi.

Jenazah R dikuburkan pada Minggu pagi di TPU Tegal Alur, tak jauh dari makam keluarga, setelah disemayamkan sejak Sabtu sore di kediamannya.

“Almarhum dikubur di Jakarta Barat, di TPU Tegal Alur karena ada adeknya juga dikubur di situ. Jadi satu lokasi. Juga saudara-saudara dia kan banyak yang dikubur di sana,” kata Dedi.

Adapun jenazah R pertama kali ditemukan oleh sang pemilik mobil Afandi. Jenazah bocah malang itu ditemukan Sabtu sore, saat Afandi hendak menggunakan mobilnya untuk bepergian.

Kanit Reskrim Polsek Metro Penjaringan, Kompol Mustakim menjelaskan, Afandi kaget saat membuka pintu bagian tengah mobil berwarna oranye miliknya dan menemui bahwa ada seorang bocah laki-laki tergeletak tak bernyawa dalam posisi telungkup.

“Selanjutnya saksi memberitahukan hal itu pemilik warung depan apartemen, yang kemudian laporkan ke Polsek Metro Penjaringan,” kata Mustakim.

Baca Juga
Pastor yang Menampar Bayi Saat Pembaptisan Akhirnya Diskors
Diduga Sakit Hati, Pria ini Sewa Preman Untuk Merusak Acara Pernikahan Mantan
Wanita Diceraikan Suaminya Setelah Ketahuan Mesra Dengan Pria Lain di Google Maps

Berdasarkan pengakuan saksi kepada polisi, yang terakhir menggunakan mobilnya ialah kakak iparnya yang diketahui bernama Ruslan. Di saat usai menggunakan mobil itu, Ruslan menyerahkan mobil itu ke adiknya pada Jumat lalu.

“Namun ternyata, adik Ruslan ini tak kunci mobilnya setelah dipakai,” kata Mustakim.

“Korban main-main dan buka pintu mobil. Saat di dalam, kepencet pintu otomatisnya saat korban mau buka mobil nggak bisa. Korban berusaha untuk membuka kaca namun tidak bisa hingga di temukan korban sudah meninggal dunia,” imbuhnya. (Dil)