Kanker paru-paru

MANAberita.com — UNTUK kesekian kalinya, kanker paru kembali merenggut nyawa manusia. Kali ini istri Indo Warkop, Nita Octobijanthy, menjadi orang yang meninggal akibat penyakit itu.

Dia bukan satu-satunya penderita kanker paru yang meninggal dunia. World Cancer Research Fund memprediksi, 1,59 juta orang meninggal akibat penyakit itu.

Hanya 15 persen penderita kanker paru yang sintas.

Lewat momen meninggalnya istri Indro, mari membesuk lagi penyakit ini dan mengetahui cara yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.
– Bagaimana Kanker Paru Bermula?

Perkembangan kanker paru masih menyisakan banyak teka-teki tetapi pelan-pelan ilmuwan mulai mengungkapnya.

Penelitian Clare Weeden dari Univerisas Melbourne di Australia menguak, kanker paru berkaitan dengan senyawa yang kita hirup dan perkembangan sel punca basal.

“Saat kita menghirup sesuatu seperti asap rokok, sel-sel basal akan menerima sinyal untuk tumbuh dan memperbaiki kerusakan itu,” kata Weeden.

Semakin banyak senyawa yang merusak, maka semakin aktif pula sel punca basal. Sayangnya, keaktifan sel punca itu juga meningkatkan risiko mutasi.

Sekali mutasi maka bayi kanker pun lahir dan akan terus tumbuh jika tubuh tak mampu mengendalikannya.

Kanker paru berpotensi menyebar ke organ-organ lainnya dan sangat sulit ditaklukkan jika terdeteksi sudah pada stadium akhir.
– Apa Sebabnya?

Sebab utamanya sudah banyak orang yang tahu, rokok.

Spesialis paru dari RS Persahabatan, Dr Sita Laksmi Andarini, PhD, SpP(K) mengatakan bahwa perokok aktif berisiko 13,6 kali lipat.

Sedangkan perokok pasif berisiko 4 kali lipat terkena kanker paru. Dalam konteks penelitian Weeden, rokok meningkatkan kerusakan sel paru dan membuat sel punca basal lebih aktif sehingga meningkatkan mutasi.

Namun kanker paru juga bisa menyerang mereka yang tidak perokok. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HPM, FINASIM dari Divisi Hematologi dan Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan, ada sekelompok penderita kanker paru non-perokok yang memiliki karakteristik atau ciri khas, yakni mereka yang masuk dalam kategori ‘woman, Asian, nonsmoker’.

“Rokok memang menjadi pemicu utama. Tetapi ada sekelompok pasien yang termasuk dalam kategori ‘woman, Asian, nonsmoker’,” ujar Aru.

Menurut Aru, jenis kanker pada golongan itu khas. Pengobatan sama dengan jenis kanker paru yang lain, tetapi cenderung ditemukan dalam stadium yang lebih lanjut karena tidak ada keluhan.

Elisna Syahruddin dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia menjelaskan, masyarakat yang bermukim di kawasan dengan tingkat polusi indoor maupun outdoor tinggi juga berpotensi besar menderita kanker paru.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS, gas radon adalah penyebab utama kanker paru pada bukan perokok.

Radon merupakan gas radioaktif yang tidak berwarna dan tidak berbau, yang terbentuk secara alami dari pembusukan elemen radioaktif seperti uranium.

Seseorang dapat terpapar radon di rumah atau bangunan yang dibangun di atas tanah atau batu dengan karateristik radioaktif tinggi.

Gas yang dihasilkan oleh tanah atau batu bisa masuk ke bangunan melalui retakan di dinding atau fondasi. Selain itu, bahaya lain yang bersumber dari lingkungan adalah asbestos.

Bahan asbestos dulu banyak digunakan dalam konstruksi bangunan.

Pemakaiannya dilarang sama sekali sejak 2003 karena diketahui beracun dan memicu kanker paru.
– Lantas Apa Gejalanya?

Seringkali kanker paru tidak menunjukkan gejala pada stadium awal sehingga sulit dideteksi.

Pada stadium menengah hingga akhir, ada beberapa gejala khas kanker paru.

Beberapa gejala itu adalah: batuk berkepanjangan, sesak nafas setelah aktivitas normal, mengalami nyeri pada dada, suara berubah, nafas yang terdengar jelas, kehilangan berat badan secara signifikan, nyeri pada tulang, dan sakit kepala.

Jika merasakan salah satunya, Anda perlu untuk konsultasi ke dokter. Sebab, gejala yang Anda jumpai bisa saja merujuk pada penyakit lain.

Jenis-Jenisnya Secara umum, kanker paru dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penampakan sel kanker di mikroskop, yaitu kanker paru karsinoma sel kecil (small cell lung cancer) dan kanker par karsinoma bukan sel kecil (non small cell lung cancer).

Karsinoma sel kecil bisa menyebar terbatas pada dada tetapi sulit disembuhkan. Pada saat yang sama, bisa juga menyebar ke organ lain.

Karsinoma bukan sel kecil bisa berupa sel skuamosa, di mana perkembangan kanker dimulai dari sel epitel yang melapisi saluran udara, dan bisa juga adekarsinoma yang perkembangannya dimulai dari lendir paru-paru.

Selain itu, ada pula kanker paru karsinoma sel besar.

Jenis ini biasanya dijumpai pada orang-orang yang terpapar asbes.

Bagaimana Mengobatinya? Jenis pengobatan kanker paru yang direkomendasikan dokter akan sesuai dengan tahapan kankernya.

Namun secara umum, ada 4 jenis pengobatan yaitu bedah, radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi target.

Sita mengatakan, bedah dapat menyembuhkan pasien kanker paru. Namun, syaratnya kanker masih berada pada stadium awal, yakni stadium 1, stadium 2, dan stadium 3A.

Pengobatan radioterapi hanya menjangkau secara lokal, tetapi tidak dapat menyembuhkan. Kemoterapi bisa efektif pada stadium mula hingga menengah.

Imunoterapi memberi harapan baru, diantaranya dengan dikenalnya programmed cell death ligand (PD-L1) pada permukaan sel kanker.

“PD-L1 sebagai indikator. Kalau tinggi bisa memiliki respons yang baik terhadap imonoterapi,” kata Sita.

Prosedur pengobatan kanker paru lainnya adalah targeted therapy.

Setiap pasien akan mendapatkan pengobatan yang berbeda yang disesuaikan dengan marker molekuler.

“Kalau dulu NSCLC dan SCLC langsung diberikan kemoterapi, semuanya sama. Perbedaannya dari fenotipe kanker itu. Tapi sekarang semua terapi itu berdasarkan genotipenya karena ada perbedaan genotipe kanker paru,” kata Dalam konteks Asia, salah satu genotipe yang paling sering didapatkan adalah mutasi Epiderma Growth Factor Receptop (EGFR).

EGFR berperan dalam pertumbuhan sel kanker. Sita menuturkan, dalam konteks Indonesia, pada tahun 2013 terdapat 42 persen mutasi EGFR pada kanker paru.
– Apakah Punya Harapan?

Dr Aru mengatakan, kanker paru adalah jenis kanker paling mematikan. Kematian akibatnya lebih tinggi daripada kanker usus besar, payudara, dan prostat.

Bahkan jika ketiga jenis kanker itu digabung, risiko kematian akibat kanker paru lebih tinggi. “Pada (kanker) stadium IV, 5 year survival rate itu 1 persen.

Artinya setelah lima tahun, hanya satu dari 100 pasien yang masih hidup.

Sebagian besar sudah meninggal dalam dua tahun setelah diagnosis ditegakkan,” jelas Aru. Kabar baiknya, jika belum punya penyakitnya, kita bisa mencegah.

DR Aru menuturkan, dengan memodifikasi gaya hidup, sebesar 30 persen risiko kanker bisa dicegah.

Bila telah menderita, ada harapan dengan tersedianya imunoterapi di Indonesia. Imunoterapi merupakan pengobatan kanker yang bertujuan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor.

Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PD-L1) melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker.

Baca Juga
Bukan Sembarangan, Ini Manfaat Mendengarkan Musik Sebelum Tidur
Georgia Bantah Ceraikan Aldi Taher Karena Kanker
Promil yang Ekonomisnya Kebangetan Tapi Dijamin Berhasil!

“Sebenarnya sel imun tubuh bisa membunuh sel kanker, tetapi sel-sel kanker sangat pintar, dia bisa membuat zat-zat yang melemahkan respon imun atau dengan cepat berganti bentuk sehingga sulit dikenali sel-T. Selain itu, sel kanker juga dapat mengelabui sel T. Melalui imunoterapi, interaksi ini dihambat sehingga sel T bisa mendeteksi dan mengenali sel kanker,” kata dr Sita.

Obat anti PD-L1 Pembrolizumab merupakan pengobatan kanker paru yang memberi hasil signifikan.

Percobaan klinis menunjukkan obat tersebut meningkatkan usia harapan hidup dan memiliki aktivitas anti-kanker yang kuat pada pasien kanker paru stadium lanjut. (Dil)
(Sumber: Serambi news)