Robert Pickton, peternak babi yang didakwa atas kematian dari puluhan wanita

MANAberita.com – MEMBUNUH atau menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak  criminal yang paling kejam. Hal itulah yang dilakukan oleh pria asal Kanada yang telah menghilangkan 49 nyawa manusia. Parahnya ia membagikan daging mayat tersebut kepada kerabat-kerabatnya.

Dilansir @manaberita dari laman Washington Post, Sabtu (03/02). Peternak babi asal Kanada ini sempat menghebohkan media karena kasus pembunuhannya terhadap 49 wanita pada tahun 2002.

Tindakan pembunuhan yang ia lakukan dan direncanakannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Tak hanya menghilangkan nyawa mereka, Robert Pickton juga punya cara terbilang sangat sadis untuk membuang jasad korbannya.

Seusai membunuh, pria ini menaruh tubuh korban ke dalam penggiling daging. Setelah itu daging korban Pickton akan dicampurkan ke makanan ternak babi miliknya. Kadangkala, Pickton akan mencampurkan daging milik korbannya bersama daging babi sebelum ia jual.

Parahnya, daging itu juga kerap ia berikan kepada sanak saudara dan kerabat, teman-temannya, serta polisi lokal.

Kebanyakan korban Pickton merupakan wanita pecandu narkoba serta para pekerja seks. Biasanya ia pergi ke distrik Red Light di Vancouver untuk mengajak para korban agar pergi ikut bersamanya ke peternakannya.

Pickton akan tidur bersama korbannya, kemudian rencana yang kerap ia lakukan yakni menyekap mereka, menyiksanya, hingga akhirnya membunuh mereka dengan berbagai cara yang terbilang kejam.

Bahkan setelah ia menghilangkan nyawa korbannya, Pickton dengan sadisnya membuang jasad korbannya melalui cara yang tak diduga. Meski begitu, tindakannya dalam mengolah dan membuang mayat dianggapnya sebagai cara yang efektif agar polisi tak menemukan bukti apapun terhadap kasus pembunuhan yang telah dilakukannya.

Korban-korban yang diperkirakan dibunuh oleh Pickton

Sebelumnya, pernah ada laporan polisi di tahun 1997 ketika salah seorang wanita ditemukan dalam keadaan selamat dengan tubuh berdarah-darah dan telanjang. Wanita itu diklaim sebagai salah satu korban dari Pickton. Beruntungnya, ia bisa melarikan diri walaupun dalam keadaan seperti itu.

Sayangnya, polisi menganggapnya sebagai saksi yang tak dapat diandalkan sehingga tak dapat menuntut Pickton ke penjara.

Sebenarnya desas-desus aneh tentang kegiatan di peternakan babi Pickton telah lama berbedar di masyarkat sekitar. Namun, polisi sangat lengah dengan hanya menyebutnya sebagai gosip belaka. Apalagi para polisi lokal juga kerap membeli daging dari peternakan babi milik Pickton.

Pickton tak akan ditangkap polisi, jika saja inhaler milik salah satu korbannya tidak ditemukan. Insiden penangkapan itu terjadi ketika penyelidik tengah menggerebek peternakan babi milk Pickton saat mencari selundupan senjata gelap.

Baru saat itulah, Pickton berhasil diringkus polisi pada Februari 2002. Walaupun sudah ditahan, Pickton menolak untuk memberikan keterangan apapun kepada pihak polisi.

Walaupun pembunuh itu punya cara yang picik untuk menyembunyikan tindakannya, polisi tak kehilangan akal begitu saja. Oleh karena itu, mereka menaruh tahanan lain di selnya agar membuatnya bicara.

Padahal teman satu sel Pickton merupakan polisi yang sedang menyamar. Tak disangka, cara itu ampuh membuat pembunuh itu buka mulut tentang tindakan kejahatan yang telah ia lakukan.

“Aku mengisi jarum suntik dengan cairan anti beku, dan aku menyuntikan barang tersebut ke dalam tubuh. Hal itu bisa membuatmu mati dalam lima sampai dengan sepuluh menit,” kata Pickton saat mengakui perbuatannya kepada polisi yang menyamar.

Cara lainnya untuk menyiksa korbannya, Pickton akan memborgol tangan korban dan menusuknya menggunakan pisau hingga tewas.

Setelah penangkapan Pickton, polisi akhirnya menggeledah peternakannya dan menemukan bukti DNA dari 26 wanita yang hilang sejak bertahun-tahun lalu.

Kecurigaan banyak orang sekitar sebenarnya sudah mulai muncul. Tapi di antara mereka tak ada orang yang menyelidiki lebih lanjut tentang Pickton dengan sifatnya yang menyendiri dengan peternakannya.

Seorang polisi pernah menyelidiki tentang wanita-wanita yang hilang. Mereka merasa frustrasi karena sejumlah wanita yang hilang, tak pernah ditemukan jejaknya hingga jasad mereka sekalipun. Setelah laporan tetang wanita yang berhasil melarikan diri di tahun 1997, beberapa penyidik mempunyai titik terang.

Wanita itu sempat memberi kesaksian dengan adanya penggiling daging, yang kerap digunakan oleh Pickton dalam mengelola peternakannya. Dari situ mulai kecurigaan terhadap Pickton. Sayangnya, pihak polisi lainnya amat lambat untuk memproses penangkapannya.

Baca Juga
Saat Berstatus Buronan, Inilah Jimat yang Dipakai Hengki Sulaiman Untuk Menghindari Polisi
Inilah Kronologis Tertembaknya Hengki, Pembunuh Driver Gocar
Tembak Razan Al-Najjar Sampai Mati, Israel: “Kami Tidak Sengaja”

Meskipun sudah ditahan, pria itu terus membual dnegan kesal tentang pembunuhannya. Pickton justru merasa kesal karena menghilangkan kesempatannya untuk membunuh satu orang lagi, hingga mencapi 50 orang.

Pria itu juga masih membuat ulah dengan menerbitkan buku yang ia tulis saat mendekam di penjara pada tahun 2006. Sambil menyelundupkan tulisannya sebagai alkitab, Pickton membela diri melalui buku tersebut bahwa seseorang menjebaknya dan menyalahkan pihak penyidik atas penemuan lebih dari 20 DNA wanita dalam pakaiannya.

Para keluarga korban merasa geram meminta kepada pihak penerbit untuk menghentikan percetakannya. Setelah itu, cerita kekejian dari Pickon diangkat ke dalam sebuah film dokumenter dengan judul Voice of a Serial Killer yang dimuat oleh CBS. (Int)