Pil KB

MANAberita.com — PIL KB merupakan salah satu metode kontrasepsi yang banyak digunakan wanita untuk mencegah kehamilan.

Selain berfungsi untuk mencegah kehamilan, pil KB juga banyak digunakan untuk mengatasi gangguan haid, endometriosis, premenstrual syndrome (PMS) dan bahkan untuk jerawat.

Pil KB biasanya mengandung hormon sintetis estrogen, progesteron, atau kombinasi keduanya. Oleh karena itu, tak jarang beberapa efek samping pil KB dapat muncul. Berikut di antaranya.

Perdarahan atau flek di antara siklus haid sering dialami wanita yang mengonsumsi pil KB. Kondisi ini biasanya akan membaik setelah 3 bulan pemakaian pil KB.

Perdarahan ini terjadi karena rahim sedang “beradaptasi” pada dinding endometrium yang lebih tipis dan tubuh pun sedang beradaptasi pada perubahan hormon yang terjadi.

Namun, Anda jangan khawatir, meski Anda mengalami flek atau perdarahan di antara siklus haid, pil KB tersebut masih bekerja efektif asalkan dikonsumsi sesuai dosis yang tepat dan teratur.

Kandungan hormon yang terdapat di dalam pil KB dapat meningkatkan risiko terjadinya nyeri kepala dan migrain. Setiap jenis dan dosis pil kB dapat memberikan gejala nyeri kepala yang berbeda-beda. Sebagai pencegahan, penggunaan pil KB dengan dosis yang rendah dapat membantu mengurangi terjadinya nyeri kepala.

Namun sebetulnya gejala ini dapat menghilang dengan sendirinya seiring dengan pemakaian pil KB.

Dari penelitian ditemukan bahwa penggunaan pil KB jenis progestin dapat menyebabkan peningkatan berat badan sekitar 2 kg dalam kurun waktu 6-12 bulan.

Namun, tidak semua wanita yang mengonsumsi pil KB mengalami hal ini. Efek peningkatan berat badan pun hanya bersifat sementara. Sebetulnya, peningkatan berat badan terjadi karena adanya retensi (penumpukan) cairan, bukan karena lemak yang bertambah. Biasanya terjadi di area payudara dan pinggul.

Sama seperti KB suntik, implan, atau IUD, pil KB juga dapat menyebabkan gangguan haid karena mengandung hormonal. Meski Anda mengonsumsi secara rutin, pil KB dapat menyebabkan Anda telat haid.

Namun, telat haid juga bisa disebabkan oleh faktor lain. Misalnya stres, gangguan tiroid, kurang gizi, atau kondisi medis tertentu. Untuk itu, jika Anda mengalami telat haid sebaiknya lakukan test pack terlebih dahulu.

Ketika mengonsumsi pil KB, Anda dapat mengalami perubahan produksi cairan vagina. Cairan vagina untuk “pelumas” dapat bertambah banyak atau bisa juga justru menurun. Jika Anda mengalami vagina kering, penggunaan cairan lubrikan buatan dapat membantu saat berhubungan seks. Namun, jika perubahan cairan vagina tersebut disertai dengan perubahan warna atau berbau, kemungkinan Anda mengalami infeksi.

Kandungan hormon estrogen dan progesteron yang terdapat di dalam pil KB dapat berpengaruh pada payudara Anda. Payudara Anda dapat menjadi lebih besar, bahkan menyebabkan rasa nyeri.

Namun, efek ini hanya berlangsung sementara dan akan hilang dengan sendirinya. Jika Anda merasakan nyeri terus-menerus, terlebih jika disertai dengan benjolan pada payudara, sebaiknya periksakan diri ke dokter.

Efek samping di atas memang sering muncul pada wanita yang menggunakan pil KB. Namun, efek samping tersebut pada umumnya hanya berlangsung sementara dan dapat hilang dengan sendirinya.

Baca Juga
Sakit Hati Diputuskan? Buat Mantan Menyesal Dengan 4 Langkah ini Yuk!
5 Penyebab Pasangan Berselingkuh yang Sering Tak Disadari Orang
Hukum Memanggil Ibu Dengan Sebutan Bunda Dalam Islam

Jika Anda tidak nyaman dengan efek samping pil KB tersebut, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk penggantian kontrasepsi jenis lainnya. (Dil)

(Sumber: Klikdokter)