Ilustrasi

MANAberita.com — TERKADANG ketika stres, atau divonis sedang depresi, kita sering kebingungan mencari apa penyebabnya. Apakah pekerjaan kita ataukah lingkungan pertemanan di sekitar kita. Sampai akhirnya kita semakin pusing karena tidak menemukan alasannya.

Penyebab stres seringkali berasal dari diri sendiri. Dari hal-hal yang terus kita sangkal karena kita tidak mau mengakuinya. Menyalahkan memang lebih mudah. Tapi coba instropeksi lagi apakah kamu sendiri masih melakukan enam kesalahan yang bisa menyebabkan stres ini.

  • ‌Tidak pernah merasa cukup

Seberapa banyak gajimu, secemerlang apapun karirmu, semenawan apapun penampilanmu, pasti selalu ada yang lebih darimu dan membuatmu iri. Mengejar kesempurnaan adalah hal yang gak ada batas akhirnya. Padahal sebenarnya gak semua hal harus menjadi yang “paling” dibanding yang lain. Kita hanya harus merasa cukup. Karena hanya kita yang bisa mengontrol perasaan itu.

Loading...

Banyak orang yang terlalu sering melihat kehidupan orang lain sehingga tidak merasa cukup dengan kehidupannya. Merasa apa yang dimilikinya belum cukup, selalu takut akan berkurang, sehingga merasa harus menambah lagi dan lagi. Apa gunanya semua yang kamu miliki kalau kamu hanya dihantui dengan rasa cemas dan stres, right?

  • Terlalu memaksakan diri

Kalau berlebihan, perfeksionis bisa jadi penyakit berbahaya. Bekerja itu ada batasnya. Ada saat untuk beristirahat dan menikmati hasil kerja kerasmu. Mungkin kamu suka menantang dirimu sendiri untuk mengetes apakah kamu mampu atau tidak. Itu bagus, tapi jangan sampai memaksakan diri. It’s okay untuk gak bisa melakukan sesuatu dan meminta tolong.

Cobalah mengerti batasanmu dan memahami kelemahanmu. Lakukan apa yang kamu bisa, apa yang kamu suka, kemudian nikmatilah. Ingat, bisa dan dipaksa itu beda lho ya.

  • ‌Berharap pada orang lain

Masalah datang karena sebuah ekspektasi yang gak terpenuhi. Kalau kecewa pada orang lain karena kamu terlalu berharap pada mereka, lantas siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab kan? Jangan membebani dirimu sendiri dengan harapan yang hasilnya nanti gak bisa kamu prediksi.

Siapapun orangnya, usahakan untuk gak berharap pada apapun yang mereka lakukan. Dukung mereka saat gagal. Jangan justru menambah beban mereka dengan kekecewaanmu.

  • ‌Selalu mengkhawatirkan tentang hal-hal yang belum terjadi

Setiap hari mungkin akan ada masalah yang berbeda. Ada kejadian yang bikin kamu sangat senang atau bahkan sangat sedih. Hiduplah day by day. Memikirkan apa yang akan terjadi hari esok dan seterusnya adalah kekhawatiran yang gak berujung.

Apa yang akan terjadi biarlah terjadi. Cobalah fokus pada satu hari saja. Lakukan apa yang perlu kamu lakukan seolah kamu gak punya hari esok. Ketika kamu selalu takut akan mendapat masalah, maka masalah justru akan benar-benar datang padamu.

  • ‌Tidak bisa menerima perubahan

Banyak hal yang harus berubah seiring berjalannya waktu. Perubahan memang sering terasa sulit di awal, tapi sebenarnya itu semua hanya masalah waktu. Karena perubahan adalah bagian dari hidup.

Kamu harus belajar untuk bisa merelakan sesuatu, menjauh dari hal yang tidak lagi sejalan denganmu, dan yang terpenting kamu harus belajar untuk berdiri di atas kakimu sendiri.

  • ‌Tidak bisa menerima kekurangan dan mengakui kesalahan

Everyone make mistake. Kecil atau besar, jarang atau sering, tidak ada orang yang sempurna dan terbebas dari dosa. Seringkali seseorang sudah mengetahui apa kekurangan mereka. Tapi mereka tidak mau mengakuinya. Justru membuat alasan setiap kali orang lain berusaha mengingatkannya.

Baca Juga
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Manfaat Lain Bedak Bayi, Salah Satunya Untuk Maskara
Cara Mudah Putihkan Tangan dan Kaki, Ampuh Banget!
Malu Pakai Lipstik Merah? Ini Tipsnya!

Padahal diingatkan bukanlah hal yang buruk. Rasa gengsimu yang membuat itu terlihat memalukan. Begitu pula dengan melakukan kesalahan. Manusia itu mudah lupa dan mudah melakukan kesalahan. Jadi memang perlu seseorang untuk mengingatkan.

Rendahkan egomu, terimalah kekuranganmu, dan berhenti mengkhawatirkan segala hal, okay? (Ila)