Barang-barang jastip

MANAberita.com – DIREKTORAT Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan telah melakukan beberapa penertiban terhadap pelaku jasa titipan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, kasus yang terbaru, Bea Cukai Soekarno Hatta pada Rabu (25/9/2019) telah menindak satu rombongan yang menggunakan modus memecah barang pesanan jasa titipan kepada 14 orang dalam rombongan tersebut.

“Beberapa kajian yang sekarang kita tangani di Cengkareng, dua hari lalu dia pergi ke Amsterdam via Dhubai lewat Cengkareng. Ada orang pesankan tiket untuk 14 orang lain dalam satu rombongan, kopernya berbeda-beda, dengan flight yang sama,” ujar Heru, melansir Kompas.com.

Secara keseluruhan hingga September 2019, Bea Cukai telah melakukan 422 penindakan terhadap jasa titipan yang melanggar ketentuan yang berlaku.

Heru pun mengungkapkan, modus jastip dengan memecah rombongan menjadi 14 orang tersebut dilakukan oleh jastip yang beroperasi melalui akun instagram @titipdongkak dengan followers 487.000an.

Dengan melakukan modus tersebut, masing-masing orang bisa terhindar dari batas atas pembayaran bea impor barang yang sebesar 500 dollar AS per penumpang.

Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 203/PMK.04/2017 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut.

“Jadi dia split, mirip-mirip waktu dia beli secara online, tapi barangnya tidak dikirim melalui prosedur barang kiriman. Karena barang kiriman sekarang sudah dipasang antisplit,” ujar dia.

Namun demikian, hingga saat ini, barang yang diimpor oleh jastip yang bersangkutan masih ditahan oleh Bea Cukai Cengkareng.

Baca Juga
Bukan Orang Sembarangan! Ternyata Inilah Pekerjaan Mommy Asf, Penulis Kisah Layangan Putus
Sempat Dikira Meninggal Dunia, Bayi yang Diselamatkan dari Bibir Pantai Rupanya Masih Hidup
Buset! Pengemis Ini Punya Kekayaan Lebih dari 1 Miliar dan Tabungan 900 Juta

Heru menjelaskan, pelaku jastip yang bersangkutan harus membuat Pemberitahuan Impor Barang Khsuus (PIBK) jika ingin barang mereka dirilis.

“Batas waktu tebus 30 hari, itu batas waktu untuk mengurus di bandara. Lewat dari itu barangnya akan digeser ke gudang penyimpanan, dan secara berkala kalau nggak diurus akan dimusnahkan atau dilelang,” ucap Heru. (Dil)