Ilustrasi

MANAberita.com — “TIDAK ngapa-ngapain kok saya disebut perawakan pencuri. Katanya tampang saya ini tampang maling ayam. Ya saya tersinggung.”

Demikian pengakuan Nito, pelaku pembunuhan di tempat pelelangan ikan (TPI) Desa Tambakoso, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Pria 49 tahun asal Dusun Krajan, Desa Gelang Rakit, Kecamatan Sumber Baru, Jember itu yang menghabisi nyawa Sakdullah (40), warga Dusun Krajan Tengah, Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, Pasuruan.

“Saya bacok tiga kali. Kena dada, perut dan pundaknya,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang babat tebu tersebu, melansir Tribun Jatim.

Diceritakannya, Minggu siang bertemu dengan korban di TPI. Berawal dari obrolan ringan, dia mengaku tersinggung dengan perkataan pria yang bekerja sebagai tukang cari kupang tersebut.

“Saya tidak pernah ngapa-ngapain kok, katanya wajah saya ini perawaan pencuri. Tampang saya dibilang tampang maling ayam,” sambungnya.

Marah mendengar itu, mereka sempat cekcok. Sejurus kemudian Nito pulang ke tempat kosnya di Tambakoso. Dia mengambil sebilah celurit dan kembali ke TPI.

Begitu ketemu korban, dia langsung menghujamkan senjatanya. Tiga kali sabetan celurit, korban tersungkur dan tewas di lokasi kejadian.

“Dari situ saya kemudian kembali ke kos. Lalu kabur ke Jember, hendak pulang ke rumah,” akunya.

Dalam pelariannya itulah dia diringkus petugas gabungan Polsek Waru dan Buser Polresta Sidoarjo.

“Tersangka kami tangkap saat di Jatiroto, Lumajang,” ucap Wakapolresta Sidoarjo AKBP Anggi Naulifar Siregar.

Dalam pemeriksaan, diketahui memang pelaku nekat menghabisi nyawa korban karena sakit hati atau tersinggung dengan perkataan korban.

Baca Juga
Dapat Banyak Sumbangan, ‘Egg Boy’ Justru Donasikan Uangnya Untuk Orang ini
Diduga Tak Punya Uang Untuk Lebaran, Ibu dan Anak di Pasuruan Nekat Minum Racun
Lion Air Dihujat Pasca Kecelakaan JT610, Pemilik: Maskapai Saya Paling Buruk di Dunia, Tapi Anda Tidak Punya Pilihan

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal seumur hidup.

“Pembunuhan ini dilatar belakangi karena sakit hati. Pelaku tersinggung diejek oleh korban,” ujarnya.