Gunung Gede

MANAberita.com — USEP tidak mendengarkan apapun kecuali keheningan yang semakin ke sini semakin mengganggunya. Ia ingin segera pergi, tetapi berendam di dalam kubangan lumpur adalah salah satu hal yang harus ia lakukan untuk bisa terbebas dari sempitnya hidup.

dalam sepi, Usep mengingat anak semata wayangnya, Dika, yang sebentar lagi masuk sekolah. Istrinya yang diboyong sebagai tenaga kerja di Malaysia mengharuskannya mengurus Dika sendirian, di samping pekerjaannya sebagai penjaga warung kecil berkat uang kiriman dari sang istri yang juga harus dibagi dengan biaya pengobatan si mbah yang sudah tua.

“apa yang terjadi dengan Dika nanti?” pertanyaan tersebut menempel masih saja menempel di benak Usep.

Usep tiba sedari pagi, dan memulai pendakiannya untuk sampai ke lokasi yang di mana Raden Surya Kencana, putra dari pendiri Kota Cianjur bersemayam. Menurut penuturan yang Usep dapatkan dari kerabatnya, di lokasi tersebut terdapat gubuk yang bisa mendatangkan kekakayaan dengan cepat seandainya melakukan ritual tertentu.

Bagi sebagian orang, cerita tersebut tak lain hanyalah mitos atau kabar burung yang sering ditulis di internet, tapi bagi Usep dan segelintir orang yang kurang beruntung, harapan adalah yang terpenting, bukan tentang benar atau salah. Karena harapan, Usep sekarang berendam di genangan lumpur tanpa berpakian, menatapi bulan purnama yang terlihat lebih terang di Gunung Gede.

Mengutip Kumparan, Awalnya Usep merasa takut ketika melakukan hal klenik ini karena khawatir mendapati berbagai macam hal yang menyeramkan seperti dihampiri sosok makhluk ghaib dan sebagainya. Namun, ia tetap bertahan karena hidup serba terbatas dan mati bunuh diri sebagai ayah yang gagal jelas jauh lebih menyeramkan dari dedemit manapun.

Fajar telah tiba, tanda bagi Usep untuk mengakhiri mandi lumpurnya dan mulai melakukan tahap lanjutan dari ritual tersebut. Dalam keadaan telanjang, Usep berguling-guling di rumput untuk membersihkan lumpur yang melumuri seluruh tubuhnya.

Degup jantungnya seakan berhamburan ketika berjalan menuju padepokan. Ia memikirkan Dika, si mbah dan hasil dari pesugihan ini. Tak terbayang bagaimana nasibnya jika pesugihan ini gagal, terlebih ia sudah melakukan ritual yang mengharuskannya telanjang di dalam lumpur.

Adapun padepokan sendiri adalah tempat memulai dan mengakhiri ritual pesugihan ini. Sebelum berendam, Usep melakukan proses pertama dari ritual ini, yakni menabur kemenyan dan kembang setaman di sekitar padepokan.

Baca Juga
Cara Menghilangkan Kumis Tipis di Atas Bibir Wanita
Kesal Airnya Sering Dipakai, Pekerja di Kalimantan Barat Bunuh Teman Kosannya
Telan Dana 1 M, Patung Gajah Mungkur di Gresik Malah Berbentuk Aneh

Usep sedikit berlari dan tak menghiraukan kembang setaman dan kemenyan yang ia tabur di sekitar padepokan. Sesampainya di dalam, ia langsung menghampiri Dika, anaknya, yang sengaja ia bawa untuk melakukan pesugihan ini.

Pertanyaan Usep terjawab. Ia percaya bahwa pesugihan ini nyata. Ia mulai menitikan air mata, dan tersedu sedan. Usep menangis bukan karena terharu musabab bisa menjadi kaya. ia menangis melihat keadaan sang anak yang bibirnya tiba-tiba menjadi sumbing, sebuah bayaran dari pesugihan ini. (Dil)