Sumanto

MANAberita.com — BAGI masyarakat Indonesia nama Sumanto pastinya bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Selain sempat menggegerkan tanah air di tahun 2003, pria Purbalingga ini juga kerap membuat orang di sampingnya tiba-tiba panas dingin. Kendati kini sudah bertobat dan menjadi sosok yang jauh lebih baik, namun kebiasaannya memakan mayat dulu tetap menjadi kisah yang bergelantungan di pikiran.

Konon katanya pria berperawakan kurus dan berkumis ini melakukan hal tersebut bukanlah untuk ilmu hitam. Hal ini tentu mengejutkan, lantaran menjadi tamparan untuk sebagian orang yang sempat menuduhnya makan mayat digunakan untuk membuat tubuhnya kebal dan pesugihan. Dan berikut alasan Sumanto kenapa mau untuk memakan manusia yang telah meninggal yang dilansir dari Bombastis.

Keadaan ekonomi jadi alasan Sumanto makan manusia

Loading...

Bila kalian banyak berpikir kalau Sumanto makan mayat untuk ilmu hitam, tentu menjadi hal yang keliru. Pasalnya menurut Pak Ahmad petugas di Yayasan HS Mustajab, keadaan ekonomi pria asal Purbalingga inilah yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama Sumanto dahulu hidup pada garis kemiskinan. Bahkan harus hidup di sebuah gubuk kecil di wilayahnya. Dan kondisi itulah yang membuatnya acap kali berkhayal makan enak dengan mengkonsumsi daging.

Namun, lantaran tidak bisa membelinya toa masjid yang mengabarkan orang mati jadi pelampiasannya memenuhi hal tersebut. Mungkin apa yang dirasakan Sumanto, layaknya kita mendengarkan kata traktiran saat tanggal tua.
Rasa mayat paling enak menurut Sumanto

Mungkin bagi kita makanan seperti sate, ayam bakar atau jenis lainnya menjadi kudapan berbahan daging yang enak untuk disantap.

Namun berbeda jika kita berbicara Sumanto, ia lebih menyukai mayat yang meninggal dalam kondisi tak lazim atau mati kemarin. Mengutip akun resmi YouTube Hijrah TransTV, ia melabeli mayat mati dadakan, orang tersamber petir, kesetrum listrik, dan kecelakaan menjadi menu yang enak disantap.

Hmm, mungkin mendengarnya akan terasa enek ya di tenggorokan, tapi ya mau bagaimana lagi lho sobat wong ya orang memiliki keterbelakangan mental memang suka begitu, atau malahan ia suka beef beef grill.
Dalam proses pencurian mayat dirinya terampil

Membaca beberapa ulasan tadi mungkin kalian akan bertanya-tanya, lantas bagaimana ia mencuri mayatnya. Kalau memang begitu bisa dikatakan apa yang kita rasakan sama sobat. Menurut orang di Yayasan H.S Mustajab, pria 46 ini melakukan pencurian mayat sendirian dengan menggali menggunakan tangannya.

Setiap mayat yang didapatkannya akan dimakan sebagian saja, lalu sisanya dibuang pada sumur atau dikubur. Apa yang dilakukannya tersebut menjadi sedikit gambaran bagaimana terampilnya ia dalam urusan tersebut. Tapi kini ia sudah berubah dan berhenti melakukan hal-hal semacam itu.
Sumato mulai hijrah menjadi manusia lebih baik lagi

Berubah 360 derajat agaknya menjadi kata yang pas untuk menggambarkan Sumanto saat ini. Pasalnya, setelah sempat mendekam di balik jeruji besi dan ditolak kembali ke masyarakat ia memperdalam ilmu agama di salah satu pesantren Purbalingga.

Dari penelusuran penulis di sana ia kerap terlihat rajin beribadah dan mengikuti sebuah pengajian. Dan konon katanya juga acap kali memberikan ceramah kepada santri lain. Sebuah kabar yang menjadi bukti kalau mau berusaha setiap manusia bisa menjadi lebih baik.

Baca Juga
Wajahnya Hancur, Tangannya Cacat, Gadis Ini Punya Keluarga yang Bahagia, Ada Kisah Menyedihkan Di Baliknya
Dipecat karena Gay, Oknum Polisi Jateng Mengadu ke Komnas HAM
Ibu ini Ungkap Biaya Cuci Darah Hanya Seharga Sepuluh Ribu Rupiah, Ternyata Begini Caranya

Jadi hidayah itu didekati bukan ditunggu layaknya angkutan umum.
Melihat apa yang terjadi pada Sumanto adalah sedikit gambaran jika kondisi ekonomi adalah alat ampuh untuk mengubah manusia.

Apabila kita tidak bisa menjaga diri hal-hal negatif yang akan kita panen. Jadi selalu lah untuk penuh rasa syukur dan menanamkan sikap kerja keras agar apa yang dialami oleh Sumanto tidak kita alami. Besar harapan jika setelah berubah pria 50 tahun ini bisa diterima kembali di masyarakat. (Dil)