Ade Irma Suryani, putri bungsu Jendral Nasution yang tewas demi lindungi sang ayah

MANAberita.com — JIKA mengingat kekejaman PKI, kita pasti tidak akan lupa dengan sosok Ade Irma Suryani. Putri bungsu dari Jendral Besar Dr. Abdul Harris Nasution atau biasa lebih dikenal dengan nama Jendral Nasution ini tewas di usia lima tahun karena berusaha melindungi sang ayah.

Ade yang lahir pada 19 Februari 1960 dan menjadi saksi kekejaman PKI yang sekaligus menewaskannya.

Kejadian yang terjadi pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03:45 ini bermula saat rumah Jendral Nasution yang berada di Jalan Teuku Umar, nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat ketuk oleh pasukan Cakrabirawa yang hendak menculiknya.

Saat itu, Ade yang sedang tidur bersama Bu Nas. Merasa ada yang tidak beres, Bu Nas segera menitipkan putri bungsunya yang juga terbangun kepada sang adik di kamar sebelah dan menyuruhkan Jendral Nasution menyelamatkan diri ke sebelah rumah yang tak lain adalah Kedubes Irak.

Papa, apa salah adek?

Tentu saja hal itu membuat pasukan Cakrabirawa berang. Mereka menembaki pintu kamar dan beberapa diantaranya mengenai si kecil Ade yang saat itu bersembunyi dibalik pintu.

Diorama tertembaknya Ade Irma Suryani di Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution

Melihat sang anak terluka parah, Bu Nas sempat berusaha menelpon Komandan Garnisun Mayjen Umar Wirahadikusumah untuk melaporkan kejadian yang terjadi dirumahnya. Sayangnya, sambungan telepon sudah terlebih dahulu diputus.

Bu Nas akhirnya memberanikan diri untuk menghadapi pasukan dan mengatakan jika suaminya tidak ada dirumah dan sudah berada di Bandung selama dua hari.

Tentu saja hal itu tidak langsung dipercaya oleh pasukan Cakrabirawa, mereka justru menggeledah kamar lain dan menangkap Lettu Pierre Tendean yang mereka anggap sebagai Jendral Nasution. Usai diculik, Pierre tewas dibunuh di Lubang Buaya.

Foto kenangan terakhir Lettu Pierre Tendean bersama Ade Irma Suryani, satu minggu sebelum tewas ditembak

Ade Irma sempat mendapatkan perawatan di RS Gatot Subroto karena menderita luka tembak yang menembus limpa, dan akhirnya meninggal pada tanggal 6 Oktober 1965.

Diorama tertembaknya Ade Irma Suryani di Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution

Sementara menurut pengakuan sang kakak, Yanti Nurdin Nasution yang tak lain adalah anak pertama sang Jendral mengatakan jika saat kejadian dirinya berhasil menyelamatkan diri.

“Saya saat itu berusia 13 tahun dan berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar kegaduhan dan suara tembakan dari kamar yang berada kamar seberang. Saya berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat dari jendela setinggi 2 meter, kemudian berlari dan bersembunyi dikamar ajudan hingga pagi. Kaki kanan saya patah dan dipasangi pen penyambung tulang, sakitnya masih terasa sampai sekarang,” kenang Yanti.

Yanti juga mengatakan jika adiknya sempat dioperasi untuk mengangkat peluruh yang bersarang di limpanya.

“Ade sempat melihat saya menangis saat menunggunya di ruang operasi tapi dia justru menyuruh saya untuk berhenti menangis dan berkata jika dia sehat,” ungkap Yanti.

Barang-barang kesayangan Ade Irma Suryani semasa hidupnya dipajang di Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution

Ade kecil juga menanyakan pada ibunya mengapa orang-orang ingin membunuh sang ayah.

Untuk mengenang kepergiannya, beberapa jalan di Indonesia sengaja dinamai dengan nama Ade. Salah satunya di Palembang.

Nama Ade Irma Suryani kini menjadi nama jalan disamping Kantor Gubernur Sumatera Selatan.

Tidak hanya itu, bahkan ada sebuah lagu yang sengaja diciptakan untuk mengingat pahlawan kecil itu. Lagu tersebut berjudul Ade Irma Suryani.

Akan kuingat selalu

Ade Irma Suryani

Waktu dipeluk dipangku ibu

Dengan segala kasih

Kini ia terbaring dipangkuan tuhan

Senang dan bahagia hatinya

Kini ia terlena tertidur terbaring

Nyenyak dipelukan Tuhannya.” (Dil)

 

Baca Juga
TNI Kodim 0418 Ajak Masyarakat Palembang Nonton Bareng Film G-30 S/PKI
Mengenang 70 Tahun Wafatnya Mahatma Gandhi
Menyamar Sebagai PSK, Dua Polwan Cantik Ini Menemukan Fakta Mengejutkan!

Cek lagunya disini :