Pengalaman Astronot Berpuasa dan Salat di Luar Angkasa

  • Rabu, 06 April 2022 - 23:24 WIB
  • Viral

MANAberita.com – SALAT dan puasa di bulan Ramadan wajib dijalankan bagi umat Islam di seluruh dunia. Kewajiban itu tidak bisa ditinggalkan kecuali dalam kondisi tertentu.

Para astronot berikut ini tetap menjalankan salat dan puasa saat berada di luar angkasa. Meski tidak mudah, mereka tetap menjalankan ibadah tersebut merujuk pada sistem waktu yang ada di Bumi.

Mengutip merdeka.com, menjalankan puasa di luar angkasa menjadi pengalaman spiritual yang tak bisa didapatkan orang pada umumnya., Rabu (6/4).

Astronot Disamakan dengan Musafir

Tidak mudah menjalankan puasa di luar angkasa. Namun tak sedikit astronot muslim tetap menjalankan puasa di luar angkasa saat bulan Ramadan. Ketika para astronot berpuasa, mereka mengambil jam puasa yang ada di Bumi.

“Ya kalau mereka memang ingin berpuasa, mereka harus merujuk pada waktu (puasa) yang ada di Bumi, tepatnya waktu lokasi peluncuran mereka,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin via pesan teks.

Menurut dia, astronot seyogyanya disamakan dengan musafir sehingga bisa saja mereka tidak berpuasa di luar angkasa. Namun ketika sudah berada di Bumi, mereka tetap harus menggantinya.

Baca Juga:
Siswi SMA 16 Tahun Bangga Buat Video Porno Sendiri dan Menyebarkan di Sosmed

Belum lagi waktu siang dan malam di luar angkasa sangat berbeda dengan Bumi. Perubahan waktu ini juga diatur beberapa kali di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station).

“ISS itu mengorbit Bumi 14 kali satu hari, siang dan malam, itu setiap 90 menit. Makanya waktunya berbeda,” pungkasnya.

Astronot Puasa di Luar Angkasa

Astronot pertama asal Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor pergi ke luar angkasa pada 10 Oktober 2007 lalu. Perjalanan ke luar angkasa itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Kala itu dia menumpang pesawat luar angkasa Rusia, Soyuz. Perjalanan Shukor ke luar angkasa selama enam hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Sebagai muslim taat, dia ingin menjalankan salat tetap menghadap ke kiblat: Kabah di Mekah. Itu yang menjadi masalah, ISS yang mengorbit 220 mil atau sekitar 354 kilometer di atas permukaan Bumi, di mana kiblat berubah dalah hitungan detik. Arah Kabah bahkan bisa berubah 180 derajat hanya dalam sekali salat.

Baca Juga:
Kena Kanker Darah, Beginilah Keadaan Ani Yudhoyono Saat Dirawat

Lembaga Antariksa Malaysia, Angkasa langsung menggelar sebuah konferensi yang diikuti 150 ilmuwan Islam untuk memecahkan masalah ini.

Hasilnya, panduan beribadah di ISS yang disetujui komisi fatwa Negeri Jiran, kiblat bisa ditentukan berdasarkan “peluang” para astronot. Prioritasnya, dari yang utama adalah: Kabah, proyeksi Kabah, Bumi, menghadap ke manapun.

Jangankan tepat menghadap Kabah, menentukan proyeksinya pun tak semudah yang dibayangkan. Meski begitu ibadah Shukor berjalan lancar.

Dia bahkan menjadi muslim kesembilan yang membuktikan bahwa berada di angkasa bukan alasan untuk tak melaksanakan ibadah salat, juga puasa Ramadan.

Shukor bahkan mengaku mendapatkan pengalaman spiritual. “Setiap orang yang berkesempatan ke luar angkasa akan merasakan sebuah keajaiban. Selama perjalananku yang bertepatan dengan Ramadan, aku seperti mendengar suara azan di Stasiun Luar Angkasa Internasional,” kata dia dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency (AA).

Baca Juga:
Edy Mulyadi Penuhi Pemeriksaan Lusa, Pengacara : Panggilan Bareskrim Sesuai KUHAP

Dia mengungkapkan astronot lainnya tidak tahu tentang azan. “Tapi aku mendengar panggilan itu secara fisik, nyata. Anda mungkin tak akan terkekut jika mendapat pengalaman seperti saya ketika berada di luar angkasa, saat Anda merasa begitu dekat dengan Allah di setiap detiknya.”

Salat di Luar Angkasa

Pesawat Discovery yang mengangkasa dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat membawa seorang pemeluk agama Islam, Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, pada 17 Juni 1985 silam. Pangeran Arab Saudi itu menjadi astronot muslim pertama di angkasa luar.

Misi berlangsung selama 7 hari, 1 jam, 38 menit, dan 52 detik. Sang pangeran menuju ke titik 4,67 juta kilometer dari Bumi-ke tempat yang tak pernah diinjak saudara sebangsanya.

Saat melihat Bumi hanya setitik kecil, dia mengalami pengalaman spiritual. “Di sana kita akan menyadari betapa kecilnya manusia. Kita hanyalah setitik debu di alam semesta,” kata dia dikutip dari The National.

Baca Juga:
Tak Terima Disebut Menistakan Agama, Saifuddin: Saya Pendukung NKRI

Sang pangeran mengakui, detik-detik ketika ia mengangkasa buat dirinya berdebar. “Jika seseorang berkata momentum itu tak menakutkan, sudah pasti ia bohong. Aku berdoa setiap saat. Peluncuran dan pendaratan adalah saat-saat mendebarkan.”

Sebagai muslim, Sultan adalah manusia pertama yang salat dan melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam kondisi nol gravitasi. Sultan mengatakan, seorang muslim bisa berdoa kapan saja.

“Menghadap ke segala arah. Seperti di pesawat luar angkasa, Anda tahu, kita tidak bisa benar-benar menghadap ke Mekah. Ke kiblat,” kata dia seperti dikutip dari situs WBUR.

Namun, tak mudah untuk melakukan gerakan salat. “Saya harus mengikat kaki saya agar bisa sujud. Tapi, itu tak bisa dilakukan dengan sempurna karena kurangnya gravitasi.”

(sas)

Komentar

Terbaru