Shamima Begum

MANAberita.com — SHAMIMA Begum, menceritakan kembali pengalamannya saat bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) empat tahun silam.

Bersama dua orang temannya, Kadiza Sultana serta Amira Abase, ketiganya meninggalkan Bethnal Green di Inggris dan bertolak ke Suriah.

Melansir Grid, dalam wawancaranya dengan jurnalis The Times Anthony Loyd, Shamima yang saat itu berusia 15 tahun menjalani kehidupan yang “normal”.

“Sejak saat itu hingga sekarang terdengar suara bom. Namun bagi kami adalah hal biasa,” ujar Shamima seperti dikutip Sky News dan BBC.

Shamima mengatakannya saat berada di kamp pengungsi al-Hawl yang berlokasi di utara Suriah, dan termasuk 39.000 orang yang kabur dari Baghouz.

Baghouz merupakan kota di Deir Ezzor yang saat ini menjadi kantong pertahanan terakhir ISIS, dan tengah digempur milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Shamima mengisahkan, dia berbohong dengan meminta izin kepada orangtuanya bahwa dia dan teman-temannya mereka bakal keluar selama sehari.

Nyatanya, ketiganya pergi menuju ke Bandara Gatwick, dan terbang menuju Turki sebelum menyeberangi perbatasan ke Suriah.

Tiga murid Bethnal Green Academy itu menyusul temannya yang lain, Sharmeena Begum, yang lebih dulu pergi ke Suriah pada 2014.

Sampai di Raqqa, Shamima menuturkan dia dan dua temannya ditempatkan bersama para perempuan yang dipersiapkan menjadi pengantin.

Awalnya, dia mengajukan diri agar bisa menikah dengan anggota ISIS yang bisa berbahasa Inggris, dan berusia antara 20-25 tahun.

Sepuluh hari kemudian, dia menikah dengan anggota asal Arnhem, Belanda, bernama Yago Riedijk.

Sementara teman-temannya menikahi anggota asal Australia hingga Bosnia. Shamima mengungkapkan, dia sudah melahirkan dua anak.

Namun, mereka tewas ketika usianya baru menginjak delapan serta 21 bulan. Kehilangan dua orang anak membuatnya sangat terguncang.

“Saya sangat terkejut dan pada akhirnya, saya tidak bisa menerimanya,” ujarnya.

Dia juga kehilangan sahabatnya Kadiza yang diyakini terbunuh di Raqqa pada Mei 2016 meski hingga saat ini laporan tersebut belum terkonfirmasi.

Shamima menuturkan, rumah Kadiza terkena bom yang meluluhlantakan hingga ruangan bawah tanah yang dipakai sebagai tempat bersembunyi.

“Awalnya saya sempat tak percaya. Saya berpikir jika kami mati, kami mati bersama. Namun, kini saya memikirkan bayi saya,” terangnya.

Kini, Shamima telah berusia 19 tahun dan mengandung anak ketiga.

Bersama suaminya, dia melarikan diri dari Baghouz dua pekan lalu. Si suami menyerah kepada SDF dan hingga saat ini tidak terlihat.

Dia mengaku sudah berbicara dengan ibunya baru-baru ini.

Ketakutan anak ketiganya bakal tewas di kamp pengungsi, Shamima mengatakan bahwa dia saat ini mempertimbangkan untuk pulang ke Inggris.

Kepada ibunya, Shamima menceritakan dia membutuhkan bantuan dan dukungan untuk kembali ke Inggris dan melahirkan di sana. Dia mengaku sudah mengetahui sikap keluarganya.

“Namun saya ingin pulang demi anak saya, dan hidup tenang di sana,” terang Shamima.

Terkait dengan ISIS, Shamima menegaskan dia tidak menyesal meninggalkan Inggris dan bergabung dengan kelompok itu pada 2015.

“Namun saya tidak berharap tinggi. Jumlah mereka saat ini semakin mengecil. Selain itu, korupsi dan penindasan membuat mereka tak layak menang,” lanjutnya.

Baca Juga
Diambil dengan 1 Tangan, Bayi Dijatuhkan Staf Medis hingga Alami Perdarahan Otak
Buset! Tak Suka Jadwal Ujian Kuliah Pagi, Mahasiswa ini Ancam Bunuh Dosennya
Tak Terima Dipecat, Perempuan ini Habiskan Rp2,7 M dengan Kartu Kredit Perusahaan

Sang kakak, Renu, kepada ITV News mengaku bersyukur adiknya telah ditemukan dalam keadaan selamat dan meminta London supaya Shamima diizinkan kembali.

“Dia hamil dan tak berdaya. Sangat penting bagi kami membawanya dari kamp al-Hawl kembali ke sini secepat mungkin,” kata Renu. (Alz)