KKN di Desa Penari

MANAberita.com — TIGA hutan yang berada di Jawa Timur ini disebut-sebut merupakan lokasi paling identik setting cerita Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penari yang tengah viral di media sosial (medsos) utamanya Twitter.

Dikutip dari Tribun Jatim, tiga hutan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso daerah paling timur Pulau Jawa ini memang terkenal seram dan angker.

Di manakah lokasi hutan yang identik dengan cerita KKN di Desa Penari itu?

Teka-teki di mana lokasi cerita horor KKN di Desa Penari yang tengah viral di media sosial jadi perbincangan hangat netizen.

Cerita horor KKN di Desa Penari viral setelah dibagikan oleh akun Twitter @SimpleM81378523 secara berseri.

Pengguna akun Twitter bernama SimpleMan itu menulis cuitan cerita berseri sejak 24 Juni-27 Juli 2019.

Akun tersebut menjelaskan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebutnya Desa Penari.

Penulis menyebutkan meski berdasarkan kisah nyata namun ia tak mau menyebut lokasi dimana kejadian tersebut.

Begitu juga nama-nama mahasiswa KKN yang disamarkannya.

Diceritakan ada 6 mahasiswa yang berasal dari sebuah perguruan tinggi di Kota S melakukan KKN di sebuah daerah terpencil yang berada di kawasan timur Provinsi Jawa Timur di akhir tahun 2009.

Dialog dalam cerita tersebut yakni Bahasa Jawa selain itu penulis juga menyertakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Enam mahasiswa angkatan 2005/2006 tersebut yakni Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton. Kota S diyakini oleh netizen yakni adalah Surabaya.

Ini berdasarkan perbincangan antara yang sempat menyebutkan satu diantara kosakata yang terkenal di Jawa Timur, “Cuk. sepedaan tah”.

Kata ‘Cuk’ memang lazim digunakan oleh orang-orang di Surabaya yang awalnya makian, tapi berubah makna menjadi ‘sapaan akrab’ sesama teman.

Sementara untuk lokasi kabupaten tempat KKN banyak yang berdebat antara Bondowoso ataukah Banyuwangi.

Kenapa Bondowoso atau Banyuwangi?

Ini berdasarkan percakapan antara Widya dan Ayu.

“Nang kota B, gok deso kabupaten Kli** , akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, di sebuah desa di kabupaten K****, banyak proker untuk dikerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita).

Penulis juga menyebutkan desa tempat KKN tersebut dengan inisial W, “sampailah mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan”

Lokasi tempat KKN tersebut menurut penulis juga letaknya tak jauh dari sebuah hutan atau alas berinisial D.

“Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S”

Hutan D banyak yang menduga itu merupakan hutan Dadapan yang letaknya berada di Kabupaten Bondowoso.

Viralnya cerita KKN di Desa Penari membuat netizen bersepekulasi dimana lokasi-lokasi tersebut.

Namun kini, stand up komedian, Raditya Dika memberikan klarifikasi mengenai KKN Desa Penari.

Berawal dari Raditya Dika yang menjelaskan dirinya sempat membuat video yang berjudul PARANORMAL EXPERIENCE: KKN DESA PENARI sekitar 1 minggu yang lalu.

Raditya Dika pun mengaku videonya sempat menjadi trending topik di YouTube dan menjadi sorotan publik. 

Sebelum membuat video YouTube, sesungguhnya Raditya Dika menghubungi pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 untuk menjelaskan secara langsung terkait KKN di Desa Penari.

Namun tak ada balasan dari sang pemilik akun tersebut.

Kemudian setelah Raditya Dika memposting ‘VIDEO PARANORMAL EXPERIENCE: KKN DESA PENARI’ di YouTube, pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 membalas dan mengatakan dirinya memang slow repon (merespon lama-red).

Hingga pada akhirnya, pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 memberikan klarifikasi kepada Raditya Dika.

Ya, ternyata Raditya Dika memberikan 10 pertanyaan kepada pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 dan dijawab melalui voice note di whatsapp.

Pertanyaan pertama adalah bagaimana keaslian cerita ini dan berasal dari siapa sebenarnya cerita ini.

Pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 menjelaskan bahwa dirinya hanya mendengar cerita itu dari teman ibunya. Teman ibunya ini memiliki umur yang terpaut jauh dari ibunya.

Lantas ia meminta langsung penjelasan dari teman ibunya ini.

Rupanya, cerita yang dituliskan oleh Pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 bukan berasal dari teman ibunya, melainkan dari teman-temannya yang lain saat kuliah di sebuah universitas di kota.

Adapun cerita ini bukan murni cerita dari narasumber, namun ada tulisan yang dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangkan.

Terlepas dari itu semua, pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 sebagai penulis berharap agar para pembaca memetik pelajaran dari cerita yang ia tuliskan yaitu ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ yang artinya haruslah mengikuti/menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita dan di mana pun berada.

Berikut penjelasan dari pemilik akun Twitter @SimpleM81378523 yang dikutip dari kanal YouTube Raditya Dika:

“Assalamualaikum Wr. Wb. Halo Mas Dika. Halo untuk semua orang yang juga mungkin mendengar saya. Perkenalkan saya adalah pemilik atau orang dibalik akun Twitter @SimpleM81378523. Sebelumnya, saya meminta maaf terlebih dahulu bila tidak dapat memnuhi undagan Mas Dika untuk menceritakan kronologi cerita yang saya tulis dan sekarang menjadi topik dalam beberapa hari ini.

Dan semoga klarifikasi ini dapat didengar oleh semua orang melalui Mas Dika tentunya. Pertama-tama saya mau menjelaskan lebih dulu dari mana cerita ini saya dengar. Cerita ini pertama kali saya dengar dari teman ibu saya. Bisa dikatakan teman lintas usia. Karena umur ibu dan teman ibu saya ini terpaut cukup jauh. Di sini saya mencuri dengar bahwa rupanya dia pernah punya pengalaman tidak mengenakkan saat dulu dia masih kuliah di Universitas di kota yang tidak jauh dari tempat saya tinggal. 

Karena saat itu saya sedang semangat-semangatnya menulis cerita dari pengalaman saya dan teman-teman dekat saya di platform Twitter, akhirnya saya tertarik untuk mengangkat cerita beliau ini. Jadi saya mulai bertanya dan meminta beliau menceritakan pengalaman-pengalaman dia selama kegiatan KKN ini. Dan saya pikir cerita beliau ini walaupun mungkin mengerikan tapi ada pembelajaran yang mungkin bisa diambil bila saya menuliskan cerita ini. Saya mengutarakan keinginan saya untuk mengangkat cerita ini yang awalnya bila narasumber menolak. Lebih ke mewanti-wanti sebenarnya.

Dia takut bila cerita ini bisa menimbulkan masalah pada beberapaorang yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung karena cerita ini sudah sangat lama terjadi. Dan cerita ini seakan-akan benar-benar ditutupi oleh semua pihak yang terlibat saat itu. Saya pun mencoba untuk membujuk beliau dan berjanji tidak akan ada satupun pihak yang dapat melacak cerita in. Karena semua yang terlibat akan saya buat disamarkan mulai dari nama, universitas, sampai desa tempat beliau melaksanakan kegiatan KKN ini.

Jadi saya akan menceritakan ulang semua kejadiannya secara rapi semacam story telling lagi berupa beberapapoin penting sehingga bila memang cerita ini nati sampai ke orang-orang, tidak akan ada satuopun pihak yang terlibat secara langsung atupun tidak langsung bisa mengonfirmasi kebenaran cerita ini karena niat awal saya sebenarnya simpel untuk menulis cerita ini agar pembaca mendapatkan atau memetik pelajaran dari cerita yang saya tulis ini,”

Setelah mendengar penuturan saya, beliau akhirnya setuju dan meminta saya untuk benar-benar mengaburkan semua poin dari universitas, desa dan bahkan bagaimana cara untuk menuju ke sana. Semua saya setting ulang meskisaya tidak benar-benar mengaburkan semua karena memang ada beberapa poin penting karena lebih baik tidak diubah karena ada hubungannya dari cerita in.

Kesalahan saya sebenarnya, saya masih memberi clue (tanda-) semacam tempat beberapa poin dan setelah cerita ini viral saya benar-benar kesal. Tetapi karena sudah terlanjur viral dan semua orang sudah membacanya ya sudah saya pikir saya masih bisa untuk tidak menjelaskan lebih jauh tentang cerita ini karena jujur saja saya merasa terganggu dengan ini, apalagi pihak narasumber. Dia benar-benar merasa terganggu. Kebetulan dia punya media sosial jadi dia sesungguhnya terganggu. Saya pun mengatakan pada beliau bahwa cepat atau lambat cerita ini akan reda dengan sendirinya. 

Cerita yang saya tulis ini bisa dibilang seperti menceritakan kembali dari poin-poin yang narasumber ceritakan karena cerita yang saya tulis dan cerita yang beliau ceritakan tidak murni semua sama. Ada beberapa bagian yang harus saya susun ulang karena sebenarnya dalam kegiatan ini sebenarnya ada 14 orang. Tidak hanya 14 orang bahkan ada dosen pengawas yang juga terlibat. Tetapi saya tidak memasukkan itu karena saya rasa mungkin saya masih bisa menceritakan ini tanpa harus menulis semua yang terlibat dan membuatnya sekan-akan ada 6 orang saja.

Sehingga saya tidak kewalahan dalam menyampaikan yang ingin saya sampaikan dalam cerita ini. Namun, saya bisa memastikan bahwa cerita ini benar-benar berasal dari narasumber tentang pengalaman dia dan pengalaman teman-temannya yang saya ubah sedemikan rupa agar masuk ke dalam 6 tokoh yang saya tulis dan saya merasa yakin cerita itu nyata entah orang percaya atau tidak. Namun, saya pikir itu nyata.

Contoh cerita yang mungkin berbeda dengan apa yang saya tulis dan apa yang saya dengar adalah cerita tentang saat adegan Widya dan Wahyu pergi kota untuk mencari beberapa peralatan KKN dan ketika mereka kembali dan melewatoi sebuah hutan, motor yang mereka gunakan tiba-tiba mogok. Di malam itu hutan tersebut sungguh sepi. Hampir tidak ada orang  yang berani dan berkendara lewat jalan tersebut karena tempatnya memang ngeri.

Kalau saya katakan nama hutan itu mungkin semua orang tahu nama hutan itu. Jadi di cerita ini Widya dan Wahyu ditolong oleh seorang kakek-kakek yang mengantar Widya dan Wahyu untuk sejenak beristirahat sembari mencicipi beberapa makanan dan kebetukan saat kakek itu menawarkan semua itu, ada desa di belakangnya dan kebetulan juga ada pesta di sana.

Seperti yang sudah ceritakan semuanya, cerita ini sama dengan penuturan dari pihak narasumber. Hanya saja, di cerita narausmber yang asli ini bukan pengalaman dia lebih kepada pengalaman teman-temannya jadi pihak narusmber bercerita bahwa pengalaman di hutan dan motornya mogok dan mereka mendapat bingkisan dan ternyata isinya kepala monyet itu ternyata dialami oleh dua temannya laki-laki dan kebetulan juga mencari kebutuhan yang dibutuhkan untuk kegiatan KKN mereka.

Bisa diambil kesimpulan bahwa cerita yang saya tulis ini tidak murni, sama dengan cerita yang saya dengar karena ada bagian-bagian yang saya tidak tulis.

Adapula bagian yang saya lebih-lebihkan dan ada bagian yang saya kurang-kurangi karena alasan sendiri yang merasakan cerita ini terlalu gila sih kalau dipikirkan secara logika. Dan ada juga cerita yang murni pengalaman narasumber dan teman-temannya yang mengalami kejadian ini secara langsung.

Baca Juga
Part 1: Mengulas Misteri Antu Banyu, Hantu Air dari Palembang yang Kerap Menghisap Darah Manusia
Jadi Favorit Jin dan Setan, Jangan Biarkan 6 Benda Ini Lama-lama Tersimpan dalam Rumah
Kisah Misteri: Cerita Bus Sumber Bencono, Bus Hantu di Sukabumi

Semua itu saya jadikan satu dalam bentuk tulisan yamng membuat cerita ini sampai di poin klimaks. Narasumber bercerita bahwa setelah kejadian ini berakhir dua temannya meregang nyawa. Saat saya mendengar klimaks ini dari narasumber, saya sendiri sekan tidak percaya karena gila aja harus sampai meregang nyawa begini. Namun, kesimpulannya itu sama sepertinya apa yang saya tulis.

Saya yakin bahwa cerita ini memiliki pembelajarna yang baik untuk orang-orang yang membaca saya harap ‘di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung’. Saya pribadi mohon maaf bila menyinggung siapapun yang merasa cerita ini menimbulkan kehebohan yang awalnya tidak pernah saya sangka sebelumnya. Dan saya sebagai penulis hanya bisa berharap ada hal postif yang bisa diambil dari cerita ini. Jujur saja saya nggak masalah jika ada orang yang bilang cerita ini fiktif, fiksi dan hiperbola (berlebihan -red) karena memang cerita ini nggak murni dari pihak narsumber dan saya buat ulang meskipun di beberapa bagian dan di klimaks sama. Intinya saya ingin menyampaikan pesan yang baik dari cerita ini dan semoga bisa diterima oleh semua orang yang mendengarkan saya.” (Alz)