Great Barrier Reef Melihat Rekor Tutupan Karang, Menunjukkan Kebangkitan Yang Rapuh

Manaberita.com – SEBUAH studi menemukan rekor tingkat pemulihan karang dari badai dan peristiwa pemutihan di sebagian besar Great Barrier Reef Australia. Terumbu utara dan tengah memiliki tutupan karang tertinggi sejak pemantauan dimulai 36 tahun lalu. Namun, tutupan karang di bagian selatan karang semakin menurun. Karang baru sangat rentan, dan kemajuan dapat dengan cepat dibatalkan oleh perubahan iklim dan ancaman lainnya, kata para pejabat.

Dilansir BBC, Setiap tahun Australian Institute of Marine Science (Aims) menyurvei kesehatan terumbu karang, menggunakan survei udara dan penyelam yang ditarik perlahan dengan perahu. Setelah pemutihan massal keempat dalam enam tahun dikonfirmasi pada bulan Maret, Aims memiliki kekhawatiran besar menjelang studi tahun ini. “Dalam 36 tahun kami memantau kondisi Great Barrier Reef, kami belum pernah melihat peristiwa pemutihan begitu dekat,” kata kepala eksekutif Paul Hardisty.

Pemutihan terjadi ketika karang yang tertekan oleh suhu air hangat mengusir ganggang yang hidup di dalamnya yang memberi mereka warna dan kehidupan. Hanya dua peristiwa pemutihan massal yang pernah tercatat sebelum 2016. Peristiwa pemutihan tahun ini adalah yang pertama terjadi selama La Niña, fenomena cuaca yang biasanya membawa suhu air lebih dingin. Hasil terbaru ini menunjukkan terumbu karang dapat pulih jika kondisinya memungkinkan, kata Dr Hardisty, tetapi “gangguan akut dan parah” menjadi lebih sering dan lebih lama.

Terumbu karang juga telah dirusak oleh bintang laut mahkota duri pemakan karang dan siklon tropis yang menghasilkan gelombang yang merusak. Sebagian besar pertumbuhan karang baru spesies yang disebut Acropora terutama terkena ancaman terumbu, kata Dr Mike Emslie dari Aims. “Ini berarti gangguan di masa depan dapat membalikkan pemulihan yang diamati dalam waktu singkat,” katanya.

Great Barrier Reef telah terdaftar sebagai Warisan Dunia selama 40 tahun karena “kepentingan ilmiah dan intrinsiknya yang sangat besar” sebagai salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati paling banyak di dunia. Otoritas Taman Laut Great Barrier Reef, yang mengelola terumbu karang, mengatakan prospek ikon itu “sangat buruk” karena perubahan iklim. Unesco, badan ilmiah dan budaya PBB, mengatakan tidak cukup banyak yang dilakukan untuk melindungi terumbu karang.

[Bil]

Komentar

- Sponsored Ad -

Terbaru

  • Mon, 03 Oct 2022
KAI Luncurkan Kereta Panoramic

MANAberita.com –  PT KERETA Api Indonesia (KAI) terus melakukan inovasi...

  • Mon, 03 Oct 2022
Heboh! Pasangan Suami Istri di Jambi Beli Mobil dengan Uang Koin Pecahan

MANAberita.com – PASANGAN suami istri di Kota Jambi, menghebohkan karyawan dealer...

  • Mon, 03 Oct 2022
Dalam Tragedi Kanjuruhan 28 Anggota Polri Diduga Langgar Etik

Manaberita.com – SEBANYAK 28 anggota Polisi diperiks oleh Mabes Polri atas...

  • Mon, 03 Oct 2022
Sekjen PSSI: Panpel Arema Lalai Dalam Tugasnya di Tragedi Kanjuruhan

Manaberita.com – PANITIA pelaksana pertandingan Arema dianggap lalai oleh PSSI dalam...

  • Mon, 03 Oct 2022
Buntut Prank Laporan Kasus KDRT, Baim Wong dan Paula Resmi Dipolisikan

Manaberita.com – PASANGAN artis Baim Wong dan Paula Verhoeven di laporkan...

  • Mon, 03 Oct 2022
Daftar 9 Komandan Brimob di Polda Jatim Juga Dicopot!

Manaberita.com – KAPOLRI Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah mencopot Kapolres Malang...

Press ESC to close